Ada Apa dengan 10 Hari Pertama Bulan Zulhijah? [1]
[1] https://muslim.or.id/31753-keutamaan-bulan-zulhijah.html
Bulan
Zulhijah adalah salah satu bulan yang dimuliakan di dalam
Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua
belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di
antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu
menzhalimi dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu
semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya. Dan ketahuilah
bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah:
36)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن الزمان قد استدار كهيئته
يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهرا، منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات:
ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر، الذي بين جمادى وشعبان
“Sesungguhnya waktu itu berputar sebagaimana keadaannya
ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada 12 bulan. Di antara
bulan-bulan tersebut, ada 4 bulan yang haram (berperang di dalamnya –
pen). Tiga bulan berturut-turut, yaitu: Zulkaidah, Zulhijah, Muharam,
(dan yang terakhir –pen) Rajab Mudhar, yaitu bulan di antara bulan Jumada
dan Sya’ban.” (HR. Bukhari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما من أيام العمل الصالح
فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر. قالوا ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد
في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذالك بشيء. (رواه البخاري)
“Tidak ada hari yang amal saleh lebih dicintai oleh Allah
daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Zulhijah –pen).” Para sahabat
bertanya, “Apakah lebih baik daripada jihad fii
sabiilillah?” Beliau bersabda, “Iya. Lebih baik daripada jihad fii
sabiilillah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa
raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid –pen).” (HR.
Bukhari)
6 Amalan Utama di Awal Dzulhijah [2]
[2] https://rumaysho.com/1372-6-amalan-utama-di-awal-dzulhijah.html
Pertama: Puasa
Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9
Dzulhijah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong kita untuk
beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan sholeh.
Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa
pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa
tiga hari setiap bulannya[9],
…”[10]
Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan
hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri,
Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari
tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. [11]
Kedua: Takbir dan Dzikir
Yang termasuk amalan sholeh juga adalah bertakbir,
bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak do’a.
Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir di pasar,
jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya.
Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan,
وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا
اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ
الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ
يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ
النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا . وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ خَلْفَ
النَّافِلَةِ .
Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di
hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada
hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada
sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut
bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah.[12]
Catatan:
Perlu diketahui bahwa takbir itu ada dua macam, yaitu
takbir muthlaq (tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu) dan
takbir muqoyyad (dikaitkan dengan waktu tertentu).
Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah
sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat
tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir
tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.
Sedangkan ada juga takbir yang sifatnya muqoyyad,
artinya dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu dilakukan setelah shalat wajib
berjama’ah[13].
Takbir muqoyyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan
mulai dari shalat Shubuh pada hari ‘Arofah (9 Dzulhijah) hingga waktu
‘Ashar pada hari tasyriq yang terakhir. Adapun bagi orang yang berhaji
dimulai dari shalat Zhuhur hari Nahr (10 Dzulhijah) hingga hari tasyriq yang
terakhir.
Cara bertakbir adalah dengan ucapan: Allahu Akbar,
Allahu Akbar, Laa ilaha illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Ketiga: Menunaikan Haji dan Umroh
Yang paling afdhol ditunaikan di sepuluh hari pertama
Dzulhijah adalah menunaikan haji ke Baitullah.
Keempat: Memperbanyak Amalan Sholeh
Sebagaimana keutamaan hadits Ibnu ‘Abbas yang kami sebutkan
di awal tulisan, dari situ menunjukkan dianjurkannya memperbanyak amalan sunnah
seperti shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan beramar ma’ruf nahi mungkar.
Kelima: Berqurban
Di hari Nahr (10 Dzulhijah) dan hari tasyriq disunnahkan
untuk berqurban sebagaimana ini adalah ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Keenam: Bertaubat
Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijah adalah
bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindak zholim
terhadap sesama.
Intinya, keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk
amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut
bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya.[14]
Sudah seharusnya setiap muslim menyibukkan diri di hari
tersebut (sepuluh hari pertama Dzulhijah) dengan melakukan ketaatan pada Allah,
dengan melakukan amalan wajib, dan menjauhi larangan Allah.[15]
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.