MEREKA MERUSAK AGAMA
PUSTAKANUR.BLOGSPOT.Com
[ Pustaka ilmu, Ikhtibar Qalbu ]
Jumat, 29 Mei 2026
Selasa, 26 Mei 2026
10 HARI AWAL DZULHIJJAH
Ada Apa dengan 10 Hari Pertama Bulan Zulhijah? [1]
[1] https://muslim.or.id/31753-keutamaan-bulan-zulhijah.html
Bulan
Zulhijah adalah salah satu bulan yang dimuliakan di dalam
Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua
belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di
antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu
menzhalimi dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu
semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya. Dan ketahuilah
bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah:
36)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن الزمان قد استدار كهيئته
يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهرا، منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات:
ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر، الذي بين جمادى وشعبان
“Sesungguhnya waktu itu berputar sebagaimana keadaannya
ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada 12 bulan. Di antara
bulan-bulan tersebut, ada 4 bulan yang haram (berperang di dalamnya –
pen). Tiga bulan berturut-turut, yaitu: Zulkaidah, Zulhijah, Muharam,
(dan yang terakhir –pen) Rajab Mudhar, yaitu bulan di antara bulan Jumada
dan Sya’ban.” (HR. Bukhari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما من أيام العمل الصالح
فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر. قالوا ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد
في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذالك بشيء. (رواه البخاري)
“Tidak ada hari yang amal saleh lebih dicintai oleh Allah
daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Zulhijah –pen).” Para sahabat
bertanya, “Apakah lebih baik daripada jihad fii
sabiilillah?” Beliau bersabda, “Iya. Lebih baik daripada jihad fii
sabiilillah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa
raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid –pen).” (HR.
Bukhari)
6 Amalan Utama di Awal Dzulhijah [2]
[2] https://rumaysho.com/1372-6-amalan-utama-di-awal-dzulhijah.html
Pertama: Puasa
Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9
Dzulhijah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong kita untuk
beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan sholeh.
Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa
pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa
tiga hari setiap bulannya[9],
…”[10]
Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan
hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri,
Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari
tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. [11]
Kedua: Takbir dan Dzikir
Yang termasuk amalan sholeh juga adalah bertakbir,
bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak do’a.
Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir di pasar,
jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya.
Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan,
وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا
اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ
الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ
يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ
النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا . وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ خَلْفَ
النَّافِلَةِ .
Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di
hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada
hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada
sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut
bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah.[12]
Catatan:
Perlu diketahui bahwa takbir itu ada dua macam, yaitu
takbir muthlaq (tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu) dan
takbir muqoyyad (dikaitkan dengan waktu tertentu).
Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah
sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat
tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir
tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.
Sedangkan ada juga takbir yang sifatnya muqoyyad,
artinya dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu dilakukan setelah shalat wajib
berjama’ah[13].
Takbir muqoyyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan
mulai dari shalat Shubuh pada hari ‘Arofah (9 Dzulhijah) hingga waktu
‘Ashar pada hari tasyriq yang terakhir. Adapun bagi orang yang berhaji
dimulai dari shalat Zhuhur hari Nahr (10 Dzulhijah) hingga hari tasyriq yang
terakhir.
Cara bertakbir adalah dengan ucapan: Allahu Akbar,
Allahu Akbar, Laa ilaha illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Ketiga: Menunaikan Haji dan Umroh
Yang paling afdhol ditunaikan di sepuluh hari pertama
Dzulhijah adalah menunaikan haji ke Baitullah.
Keempat: Memperbanyak Amalan Sholeh
Sebagaimana keutamaan hadits Ibnu ‘Abbas yang kami sebutkan
di awal tulisan, dari situ menunjukkan dianjurkannya memperbanyak amalan sunnah
seperti shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan beramar ma’ruf nahi mungkar.
Kelima: Berqurban
Di hari Nahr (10 Dzulhijah) dan hari tasyriq disunnahkan
untuk berqurban sebagaimana ini adalah ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Keenam: Bertaubat
Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijah adalah
bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindak zholim
terhadap sesama.
Intinya, keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk
amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut
bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya.[14]
Sudah seharusnya setiap muslim menyibukkan diri di hari
tersebut (sepuluh hari pertama Dzulhijah) dengan melakukan ketaatan pada Allah,
dengan melakukan amalan wajib, dan menjauhi larangan Allah.[15]
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
Rabu, 22 April 2026
Muhasabah
"dan Saya pun Korupsi Waktu"
Saudaraku yang baik !
Tulisan ini hanyalah bertujuan saling mengingatkan, bagi kita yang akan tua dan mulai lupa. Terutama bagi diri saya pribadi dan juga buatmu teman sejawatku, karena kewajiban bagi kita untuk saling mengingatkan, bukan malah membiarkan. Selanjutnya lepaslah kewajiban kita, terhadap saudara kita yang akan tua dan lupa. Ketika semangat diri mulai kendor, tulisan ini dapat saya baca kembali, untuk pengingat dalam menjalankan tugas dan kewajiban.
Sadar atau tidak disadari, sering kita melanggar kewajiban dalam menunaikan amanah kerja yang diberikan kepada kita. Salah satu contoh dalam hal ini, adalah bagi mereka yang berprofesi sebagai Guru, "ya Guru" para guru-guru yang dicontoh dan mendidik murid-murid mereka di bangku Sekolah.
Banyak para guru yang datang ke sekolah sering terlambat, dan pulangnya cepat, dan yang lebih memprihatinkan tidak datang ke sekolah di saat jam kerja, namun tetap menerima gaji penuh termasuk gaji dari hari dimana ia tidak hadir tersebut. Meskipun masuk kerja 3 hari setiap pekan, tapi terima gaji hitungan 30 hari. Tahukah kita hal ini adalah bentuk korupsi waktu, dari jam kerja yang diamanahkan kepadamu. Ingatlah lelah dan letih tubuhmu akan segera berkurang atau hilang, ketika tubuh telah tidur di malam hari dan bangun di pagi hari. Namun kewajiban amanah yang tidak kita penuhi, akan tetap dicatat oleh Malaikat yang berada disisi kanan kirimu, yang sangat tahu semua keburukkanmu.
Lika-Liku Korupsi Waktu [1]
Allah berfirman, yang artinya, “Kecelakaan
besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila
menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka
menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (Qs.
Al-Muthaffifin: 1-3)
Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata, “Muthaffifin adalah orang yang meminta hak mereka secara utuh namun mengurangi hak orang lain. Artinya, mereka mengumpulkan dua sifat, yaitu ‘syuhh’ dan bakhil. Syuhh adalah menuntut hak secara penuh tanpa ada tawar-menawar, sedangkan bakhil adalah tidak mau melaksanakan kewajiban, yang dalam hal ini adalah menyempurnakan takaran dan timbangan.
Demikian pula, seorang pekerja
atau pegawai yang menuntut agar mendapatkan gaji yang utuh, namun datang dan
perginya sangat tidak tepat waktu juga termasuk muthaffif yang
Allah tegur dengan teguran keras dalam ayat di atas.
Dari al-Mughirah bin Syu’bah,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya
Allah mengharamkan mendurhakai ibu, membunuh anak perempuan, dan mana’a wahat.” (HR.
Bukhari no. 2408, dan Muslim no 4580)
Yang dimaksud “mana’a wahat” adalah tidak mau melaksanakan kewajiban, atau meminta hal yang bukan haknya. Oleh karena itu, waktu siang hari (jam kerja) tidak bisa dipergunakan seenaknya sendiri. Dia tidak boleh melakukan shalat sunnah dan beri’tikaf sunnah (pada waktu jam kerja, pent) sehingga dia tidak memikirkan dan mengatur hal-hal yang menjadi kewajibannya. Hal itu dikarenakan, amal-amal tersebut bernilai sunnah sedangkan pekerjaan adalah kewajiban yang harus dikerjakan.
Urgensi Memahami Harta Haram[2]
Kita memahami hidup ini tidak ada
yang sia-sia, karena semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Dari Abu Barzah Al-Aslami,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ
عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ
اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah
beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia
habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh
dan (4) di mana dia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi 2417 dan
dishahihkan al-Albani)
Apa yang kita miliki akan dihisab
oleh Allah, dari mana didapatkan dan untuk apa digunakan. Anda tidak boleh
merasa aman -yang penting rizki di tangan saya halal- tapi anda juga harus
memikirkan bagaimana cara penggunaannya yang benar.
Jika korupsi waktu terus-menerus
dilakukan oleh seorang pekerja, sementara ia terus menerima gaji utuh, bisa
jadi ia menerima gaji buta. Demikian ini termasuk memakan harta dengan cara
yang batil. Hartanya bisa jadi tidak berkah.
Syekh Muhammad bin Shalih
Al-‘Ustaimin rahimahullah menjelaskan,
“Jika kita melihat masyarakat kita
sekarang, maka kita akan mendapati tidak ada (sedikit) yang selamat dari sifat
kefasikan kecuali yang Allah kehendaki (selamat dari itu). Misalnya seperti
perbuatan ghibah yang termasuk perbuatan fasik (dan banyak
terjadi), bolos kerja yang terus dilakukan, serta perbuatan pegawai yang
terlambat masuk kerja (yang telah dimulai satu jam sebelumnya) dan pulang kerja
satu jam lebih cepat dari yang seharusnya. Terus-menerus melakukan hal
itu adalah termasuk kefasikan karena ini termasuk berkhianat dan tidak sesuai
amanah serta memakan harta dengan cara yang batil. Karena setiap gaji yang anda
terima tanpa diimbangi dengan pekerjaan, maka ini termasuk memakan harta dengan
cara yang batil.” (Asy-Syarh al-Mumti’, 15: 278)
Oleh karena itu, mari kita tunaikan amanah yang kita pikul sebaik mungkin, sehingga harta yang kita dapatkan dari bekerja bisa mendapatkan berkah dan kebaikan yang banyak.
Ucapan yang Paling Dibenci Allah[4]
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل: اتق الله، فيقول: عليك بنفسك.”
”Kalimat yang paling Allah benci,
seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab:
’Urus saja dirimu sendiri.”
(HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman,
1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, 849, dan dishahihkan al-Albani
dalam as-Shahihah, no. 2598).
Dibenci karena sikap ini termasuk
bentuk kesombongan dan menyakiti perasaan orang yang mengajak dirinya untuk
berbuat baik.
Nabi Nuh ’alaihi salam,
mengadu kepada Allah disebabkan sikap kaumnya semacam ini.
Nuh berkata: “Ya Tuhanku
Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, Maka seruanku itu
hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Setiap kali aku menyeru mereka
(kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke
dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap
(mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (QS. Nuh: 5 – 7)
Sumber Referesi
[1] https://pengusahamuslim.com/1762-likaliku-korupsi-waktu.html
[2] https://pengusahamuslim.com/7211-mengenal-harta-haram-bagian-01.html
[3] https://muslim.or.id/24995-korupsi-waktu.html
[4] https://nasehat.net/ucapan-yang-paling-dibenci-allah/
Senin, 06 April 2026
Sabtu, 28 Maret 2026
Bahari (bacaan hari ini)
BaHari 001 ✒️Cara Beragama yg Benar
☝🏼Walaupun tujuan mereka menyembah kuburan atau selainnya itu untuk beribadah kepada Allah, atau sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka semua itu telah dibantah oleh Allah sendiri dalam firman-Nya, dan disebutkan bahwa perbuatan tersebut sebagai sebuah kekufuran. Sebagaimana firman Allah (artinya)
“Dan orang-orang yang mengambil wali (pelindung) selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat kufur.” (QS. Az Zumar: 3)
👉Karenanya, seseorang dikatakan telah berislam dengan benar jika ia telah menghilangkan sekutu bagi Allah dan ikhlas di dalam beribadah kepada-Nya.
("Bagaimana tata cara beragama yg benar? Yuuk, baca selengkapnya pada tautan berikut yaa.)
Sumber:
https://buletin.muslim.or.id/cara-beragama-yang-benar/
Jazaakumullahu khoiron katsiiron (جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا كَثِيْرًا)
Jumat, 27 Februari 2026
TAHUKAH ANDA ?
KEBENARAN AKAN
MENJADI SUATU YANG ASING
Di zaman
sekarang ini, banyak sekali kaum Muslimin yang mengikuti dan meniru-niru orang
kafir dan tidak mau mempelajari agama Islam. Akibatnya, banyak sekali kaum
Muslimin yang tidak mengenal agama mereka sendiri. Bahkan ketika ada seseorang
yang menjalankan ibadah atau berpenampilan sesuai dengan tuntunan Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam , banyak orang yang mengaku Muslim yang mengejek
mereka, bahkan dengan lancang berani mengatakan bahwa orang tersebut adalah
orang yang sesat.
Sungguh benar
apa yang dikatakan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
بَدَأَ الإِسْلاَمُ
غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ
Islam datang
dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana dia datang, maka
beruntunglah orang-orang yang asing tersebut.[10]
Di dalam
riwayat lain ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya
tentang siapakah orang-orang asing tersebut, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda:
قَوْمٌ صَالِحُونَ
قَلِيلٌ فِي نَاسِ سَوْءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ
Mereka adalah
orang-orang shalih yang jumlahnya sedikit di antara orang-orang buruk yang
jumlahnya banyak. Orang yang menyelisihi mereka lebih banyak daripada orang
yang menuruti mereka[11]
Sumber Referensi
(baca lebih lanjut) :
https://almanhaj.or.id/6531-jika-beragama-mengikuti-kebanyakan-orang.html
Senin, 16 Februari 2026
Muhasabah
KETIKA SYAHWAT SUDAH DI UBUN UBUN
apa yang akan kita lakukan, apa yang kita pikirkan, maka yuk di simak video Muhasabah berikut ini !
-
Saudaraku yang aku sayangi dan disayangi oleh Allah Shubhanahu wa ta'ala .... saat ini sering kita mendengar perkataan, ketika meli...
-
Buatmu yang ingin tahu lebih banyak tentang shalat, berikut admin berikan link terkait bahasan kita kali ini. Untuk menyimaknya silahkan kli...
-
ABU BAKAR ASH SHIDDIQ Ada banyak faedah yang didapat dengan menyimak kisah sejarah orang-orang teladan dan pilihan, kali ini admin menghadi...