MUDAHNYA MAKSIAT
Saudaraku....kita berada di zaman serba digital, instan dan mudah, bahkan bermaksiat itu pun juga lebih mudah, datang dengan mudahnya meskipun engkau sedang berdiam dirumah. kenapa ? yuk kita simak video berikut :
[ Pustaka ilmu, Ikhtibar Qalbu ]
MUDAHNYA MAKSIAT
Saudaraku....kita berada di zaman serba digital, instan dan mudah, bahkan bermaksiat itu pun juga lebih mudah, datang dengan mudahnya meskipun engkau sedang berdiam dirumah. kenapa ? yuk kita simak video berikut :
Ingatlah saudaraku, setiap yang kita ucapkan, mencakup perkataan yang baik, yang buruk juga yang sia-sia akan selalu dicatat oleh malaikat yang setiap saat mengawasi kita. Seharusnya kita selalu merenungkan ayat berikut agar tidak serampangan mengeluarkan kata-kata dari lisan ini. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18). Ucapan dalam ayat ini bersifat umum. Oleh karena itu, bukan perkataan yang baik dan buruk saja yang akan dicatat oleh malaikat, tetapi termasuk juga kata-kata yang tidak bermanfaat atau sia-sia. (Lihat Tafsir Syaikh Ibnu Utsaimin pada Surat Qaaf).
"Mari kita renungkan video singkat berikut"Bahaya Lisan [2]
Sumber; [2] https://www.youtube.com/watch?v=2lNA8XgtYIo
Doa Agar Tidak Malas, Disucikan Jiwa, Diberi Hati yang Khusyuk [1]
Doa ini bagus sekali untuk diamalkan berisi berlindung dari
sifat lemah dan malas, agar disucikan jiwa, dan agar diberi hati yang khusyuk.
Berikut doanya dari bahasan Riyadhus Sholihin karya Imam
Nawawi rahimahullah.
Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa
Hadits #1479
وَعَنْ
زَيْدٍ بْنِ أَرْقَم – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ –
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ :(( اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ
مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وَعَذَابِ القَبْرِ ،
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا ، وَزَكِّها أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا ،
أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا ، اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لا
يَنْفَعُ؛ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ ؛ وَمِنْ
دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا )) .رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan:
‘ALLOHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL ‘AJZI WAL KASALI,
WAL BUKHLI WAL HAROMI, WA ‘ADZAABIL QOBRI.
ALLOHUMMA AATI NAFSII TAQWAAHAA,
WA ZAKKIHAA ANTA KHOIRU MAN ZAKKAHAA,
ANTA WALIYYUHAA WA MAWLAAHAA.
ALLOHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN ‘ILMIN LAA YANFA’,
WA MIN QOLBIN LAA YAKH-SYA’,
WA MIN NAFSIN LAA TASYBA’,
WA MIN DA’WATIN LAA YUSTAJAABU LAHAA’
(Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari kelemahan, kemalasan, kekikiran, ketuaan—kepikunan–, dan siksa kubur. Ya
Allah, datangkanlah pada jiwaku ini ketakwaannya dan bersihkanlah ia. Engkaulah
sebaik-baik yang dapat membersihkannya, Engkaulah Pelindungnya dan Rabbnya. Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang
tidak khusyuk, nafsu yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak dikabulkan).”
(HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2722]
Faedah Hadits
Pertama: Diperintahkan untuk meminta perlindungan
dari ‘ajez (lemah), kasal (malas), bukhl (pelit), harom (kejelekan
di masa tua), dan siksa kubur.
‘Ajez adalah tidak adanya kemampuan untuk
melakukan kebaikan, sedangkan kasal adalah tidak ada atau
kurangnya motivasi untuk melakukan kebaikan padahal dalam keadaan mampu untuk
melakukannya. Demikian keterangan dari Imam Nawawi dalam Syarh Shahih
Muslim.
Kedua: Wajib tiap orang memperhatikan jiwanya
masing-masing, menyucikannya dari kotoran dengan menjalankan kewajiban dan
menjauhi setiap larangan.
Ketiga: Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang
menyucikan jiwa, menghasilkan khasy-yah (rasa takut) pada
Allah, hingga berpengaruh pada anggota tubuh lainnya.
Keempat: Hati yang khusyuk adalah hati yang takut dan
butuh ketika mengingat Allah, kemudian hati tersebut melembut, tenang, dan
tunduk pada Allah. Hati tersebut mendapatkan cahaya dari Allah, hingga bisa
membedakan kebenaran dan kebatilan.
Kelima: Hadits ini menunjukkan celaan pada dunia dan
celaan bagi jiwa yang tidak pernah puas.
Keenam: Baiknya setiap hamba menjauhi hal-hal yang membuat doanya sulit terkabul dengan memenuhi syarat-syarat terkabulnya doa yaitu:
(1) ikhlas,
(2) tidak tergesa-gesa,
(3) berdoa dalam kebaikan (bukan dalam kejelekan),
(4) yakin dan menghadirkan hati,
(5) mengonsumsi
makanan yang thayyib (halal).
Ada Apa dengan 10 Hari Pertama Bulan Zulhijah? [1]
[1] https://muslim.or.id/31753-keutamaan-bulan-zulhijah.html
Bulan
Zulhijah adalah salah satu bulan yang dimuliakan di dalam
Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua
belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di
antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu
menzhalimi dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu
semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya. Dan ketahuilah
bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah:
36)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن الزمان قد استدار كهيئته
يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهرا، منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات:
ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر، الذي بين جمادى وشعبان
“Sesungguhnya waktu itu berputar sebagaimana keadaannya
ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada 12 bulan. Di antara
bulan-bulan tersebut, ada 4 bulan yang haram (berperang di dalamnya –
pen). Tiga bulan berturut-turut, yaitu: Zulkaidah, Zulhijah, Muharam,
(dan yang terakhir –pen) Rajab Mudhar, yaitu bulan di antara bulan Jumada
dan Sya’ban.” (HR. Bukhari)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما من أيام العمل الصالح
فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر. قالوا ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد
في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذالك بشيء. (رواه البخاري)
“Tidak ada hari yang amal saleh lebih dicintai oleh Allah
daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Zulhijah –pen).” Para sahabat
bertanya, “Apakah lebih baik daripada jihad fii
sabiilillah?” Beliau bersabda, “Iya. Lebih baik daripada jihad fii
sabiilillah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa
raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid –pen).” (HR.
Bukhari)
6 Amalan Utama di Awal Dzulhijah [2]
[2] https://rumaysho.com/1372-6-amalan-utama-di-awal-dzulhijah.html
Pertama: Puasa
Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9
Dzulhijah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong kita untuk
beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan sholeh.
Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa
pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa
tiga hari setiap bulannya[9],
…”[10]
Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan
hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri,
Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari
tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. [11]
Kedua: Takbir dan Dzikir
Yang termasuk amalan sholeh juga adalah bertakbir,
bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak do’a.
Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir di pasar,
jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya.
Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan,
وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا
اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ
الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ
يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ
النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا . وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ خَلْفَ
النَّافِلَةِ .
Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di
hari-hari yang ditentukan yaitu 10 hari pertama Dzulhijah dan juga pada
hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada
sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut
bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah.[12]
Catatan:
Perlu diketahui bahwa takbir itu ada dua macam, yaitu
takbir muthlaq (tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu) dan
takbir muqoyyad (dikaitkan dengan waktu tertentu).
Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah
sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat
tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir
tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.
Sedangkan ada juga takbir yang sifatnya muqoyyad,
artinya dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu dilakukan setelah shalat wajib
berjama’ah[13].
Takbir muqoyyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan
mulai dari shalat Shubuh pada hari ‘Arofah (9 Dzulhijah) hingga waktu
‘Ashar pada hari tasyriq yang terakhir. Adapun bagi orang yang berhaji
dimulai dari shalat Zhuhur hari Nahr (10 Dzulhijah) hingga hari tasyriq yang
terakhir.
Cara bertakbir adalah dengan ucapan: Allahu Akbar,
Allahu Akbar, Laa ilaha illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Ketiga: Menunaikan Haji dan Umroh
Yang paling afdhol ditunaikan di sepuluh hari pertama
Dzulhijah adalah menunaikan haji ke Baitullah.
Keempat: Memperbanyak Amalan Sholeh
Sebagaimana keutamaan hadits Ibnu ‘Abbas yang kami sebutkan
di awal tulisan, dari situ menunjukkan dianjurkannya memperbanyak amalan sunnah
seperti shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan beramar ma’ruf nahi mungkar.
Kelima: Berqurban
Di hari Nahr (10 Dzulhijah) dan hari tasyriq disunnahkan
untuk berqurban sebagaimana ini adalah ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Keenam: Bertaubat
Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijah adalah
bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindak zholim
terhadap sesama.
Intinya, keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk
amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut
bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya.[14]
Sudah seharusnya setiap muslim menyibukkan diri di hari
tersebut (sepuluh hari pertama Dzulhijah) dengan melakukan ketaatan pada Allah,
dengan melakukan amalan wajib, dan menjauhi larangan Allah.[15]
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
"dan Saya pun Korupsi Waktu"
Saudaraku yang baik !
Tulisan ini hanyalah bertujuan saling mengingatkan, bagi kita yang akan tua dan mulai lupa. Terutama bagi diri saya pribadi dan juga buatmu teman sejawatku, karena kewajiban bagi kita untuk saling mengingatkan, bukan malah membiarkan. Selanjutnya lepaslah kewajiban kita, terhadap saudara kita yang akan tua dan lupa. Ketika semangat diri mulai kendor, tulisan ini dapat saya baca kembali, untuk pengingat dalam menjalankan tugas dan kewajiban.
Sadar atau tidak disadari, sering kita melanggar kewajiban dalam menunaikan amanah kerja yang diberikan kepada kita. Salah satu contoh dalam hal ini, adalah bagi mereka yang berprofesi sebagai Guru, "ya Guru" para guru-guru yang dicontoh dan mendidik murid-murid mereka di bangku Sekolah.
Banyak para guru yang datang ke sekolah sering terlambat, dan pulangnya cepat, dan yang lebih memprihatinkan tidak datang ke sekolah di saat jam kerja, namun tetap menerima gaji penuh termasuk gaji dari hari dimana ia tidak hadir tersebut. Meskipun masuk kerja 3 hari setiap pekan, tapi terima gaji hitungan 30 hari. Tahukah kita hal ini adalah bentuk korupsi waktu, dari jam kerja yang diamanahkan kepadamu. Ingatlah lelah dan letih tubuhmu akan segera berkurang atau hilang, ketika tubuh telah tidur di malam hari dan bangun di pagi hari. Namun kewajiban amanah yang tidak kita penuhi, akan tetap dicatat oleh Malaikat yang berada disisi kanan kirimu, yang sangat tahu semua keburukkanmu.
Lika-Liku Korupsi Waktu [1]
Allah berfirman, yang artinya, “Kecelakaan
besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila
menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka
menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (Qs.
Al-Muthaffifin: 1-3)
Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata, “Muthaffifin adalah orang yang meminta hak mereka secara utuh namun mengurangi hak orang lain. Artinya, mereka mengumpulkan dua sifat, yaitu ‘syuhh’ dan bakhil. Syuhh adalah menuntut hak secara penuh tanpa ada tawar-menawar, sedangkan bakhil adalah tidak mau melaksanakan kewajiban, yang dalam hal ini adalah menyempurnakan takaran dan timbangan.
Demikian pula, seorang pekerja
atau pegawai yang menuntut agar mendapatkan gaji yang utuh, namun datang dan
perginya sangat tidak tepat waktu juga termasuk muthaffif yang
Allah tegur dengan teguran keras dalam ayat di atas.
Dari al-Mughirah bin Syu’bah,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya
Allah mengharamkan mendurhakai ibu, membunuh anak perempuan, dan mana’a wahat.” (HR.
Bukhari no. 2408, dan Muslim no 4580)
Yang dimaksud “mana’a wahat” adalah tidak mau melaksanakan kewajiban, atau meminta hal yang bukan haknya. Oleh karena itu, waktu siang hari (jam kerja) tidak bisa dipergunakan seenaknya sendiri. Dia tidak boleh melakukan shalat sunnah dan beri’tikaf sunnah (pada waktu jam kerja, pent) sehingga dia tidak memikirkan dan mengatur hal-hal yang menjadi kewajibannya. Hal itu dikarenakan, amal-amal tersebut bernilai sunnah sedangkan pekerjaan adalah kewajiban yang harus dikerjakan.
Urgensi Memahami Harta Haram[2]
Kita memahami hidup ini tidak ada
yang sia-sia, karena semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Dari Abu Barzah Al-Aslami,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ
عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ
اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah
beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia
habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh
dan (4) di mana dia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi 2417 dan
dishahihkan al-Albani)
Apa yang kita miliki akan dihisab
oleh Allah, dari mana didapatkan dan untuk apa digunakan. Anda tidak boleh
merasa aman -yang penting rizki di tangan saya halal- tapi anda juga harus
memikirkan bagaimana cara penggunaannya yang benar.
Jika korupsi waktu terus-menerus
dilakukan oleh seorang pekerja, sementara ia terus menerima gaji utuh, bisa
jadi ia menerima gaji buta. Demikian ini termasuk memakan harta dengan cara
yang batil. Hartanya bisa jadi tidak berkah.
Syekh Muhammad bin Shalih
Al-‘Ustaimin rahimahullah menjelaskan,
“Jika kita melihat masyarakat kita
sekarang, maka kita akan mendapati tidak ada (sedikit) yang selamat dari sifat
kefasikan kecuali yang Allah kehendaki (selamat dari itu). Misalnya seperti
perbuatan ghibah yang termasuk perbuatan fasik (dan banyak
terjadi), bolos kerja yang terus dilakukan, serta perbuatan pegawai yang
terlambat masuk kerja (yang telah dimulai satu jam sebelumnya) dan pulang kerja
satu jam lebih cepat dari yang seharusnya. Terus-menerus melakukan hal
itu adalah termasuk kefasikan karena ini termasuk berkhianat dan tidak sesuai
amanah serta memakan harta dengan cara yang batil. Karena setiap gaji yang anda
terima tanpa diimbangi dengan pekerjaan, maka ini termasuk memakan harta dengan
cara yang batil.” (Asy-Syarh al-Mumti’, 15: 278)
Oleh karena itu, mari kita tunaikan amanah yang kita pikul sebaik mungkin, sehingga harta yang kita dapatkan dari bekerja bisa mendapatkan berkah dan kebaikan yang banyak.
Ucapan yang Paling Dibenci Allah[4]
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu
‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن أبغض الكلام إلى الله أن يقول الرجل للرجل: اتق الله، فيقول: عليك بنفسك.”
”Kalimat yang paling Allah benci,
seseorang menasehati temannya, ’Bertaqwalah kepada Allah’, namun dia menjawab:
’Urus saja dirimu sendiri.”
(HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman,
1/359, an-Nasai dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah, 849, dan dishahihkan al-Albani
dalam as-Shahihah, no. 2598).
Dibenci karena sikap ini termasuk
bentuk kesombongan dan menyakiti perasaan orang yang mengajak dirinya untuk
berbuat baik.
Nabi Nuh ’alaihi salam,
mengadu kepada Allah disebabkan sikap kaumnya semacam ini.
Nuh berkata: “Ya Tuhanku
Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, Maka seruanku itu
hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Setiap kali aku menyeru mereka
(kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari mereka ke
dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap
(mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. (QS. Nuh: 5 – 7)
Sumber Referesi
[1] https://pengusahamuslim.com/1762-likaliku-korupsi-waktu.html
[2] https://pengusahamuslim.com/7211-mengenal-harta-haram-bagian-01.html
[3] https://muslim.or.id/24995-korupsi-waktu.html
[4] https://nasehat.net/ucapan-yang-paling-dibenci-allah/
MUDAHNYA MAKSIAT Saudaraku....kita berada di zaman serba digital, instan dan mudah, bahkan bermaksiat itu pun juga lebih mudah, datang den...