Waktu adalah salah satu nikmat yang agung dari Allah Subhanahu
wa Ta’ala kepada manusia. Sudah sepantasnya manusia memanfaatkannya
secara baik, efektif dan semaksimal mungkin untuk amal shalih.
Allah Ta’ala telah bersumpah dengan
menyebut masa dalam firman-Nya:
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan
nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya
menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr:1-3).
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu, sebagaimana disebutkan dalam hadits
berikut ini:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia
berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua
kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan
waktu luang”. (HR Bukhari).
Hadits yang mulia ini memberitakan bahwa waktu luang adalah
nikmat yang besar dari Allah Ta’ala, tetapi banyak manusia tertipu
dan mendapatkan kerugian terhadap nikmat ini.
Di antara bentuk kerugian ini adalah:
Pertama: Seseorang tidak mengisi waktu luangnya
dengan bentuk yang paling sempurna. Seperti menyibukkan waktu luangnya dengan
amalan yang kurang utama, padahal ia bisa mengisinya dengan amalan yang lebih
utama.
Kedua: Dia tidak mengisi waktu luangnya dengan
amalan-amalan yang utama, yang memiliki manfaat bagi agama atau dunianya. Namun
kesibukkannya adalah dengan perkara-perkara mubah yang tidak berpahala.
Ketiga: Dia mengisinya dengan perkara yang haram, ini
adalah orang yang paling tertipu dan rugi. Karena ia menyia-nyiakan kesempatan
memanfaatkan waktu dengan perkara yang bermanfaat. Tidak hanya itu, bahkan ia
menyibukkan waktunya dengan perkara yang akan menggiringnya kepada hukuman
Allah di dunia dan di akhirat.
Adapun yang menjadi penyebab perbedaan keadaan manusia dalam
menyikapi waktu, kembali kepada tiga perkara berikut.
Sebab pertama, tidak menetapkan tujuan hidup. Oleh karena
itu, seorang muslim wajib mengetahui bahwa tujuan Allah menciptakannya adalah
untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56).
Dia harus mengetahui bahwa dunia ini adalah tempat beramal,
bukan tempat santai dan main-main, sebagaimana firman-Nya:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا
لَا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami
menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan
dikembalikan kepada Kami?” (QS. al-Mukminun: 115).
Dunia adalah sawah ladang akhirat. Jika engkau menanam
kebaikan di dunia ini, maka engkau akan memetik kenikmatan abadi di akhirat
nanti. Jika engkau menanam keburukan di dunia ini, maka engkau akan memetik
siksaan pedih di akhirat nanti.
Namun demikian, ini bukan berarti manusia tidak boleh
bersenang-senang dengan perkara yang Allah ijinkan di dunia ini, karena
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي
أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ
عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut
dan paling takwa di antara kamu kepada Allah, tetapi aku berpuasa dan berbuka,
shalat (malam) dan tidur, dan aku menikahi wanita-wanita. Barangsiapa membenci
sunnahku, maka ia bukan dariku. (HR al-Bukhari, no. 4776; Muslim, no. 1401)
Sebab kedua, tidak megentahui nilai dan urgensi waktu.
Sebab ketiga, lemahnya kehendak dan tekad.
Banyak orang mengetahui nilai dan urgensi waktu, dan
mengetahui perkara-perkara bermanfaat yang seharusnya dilakukan untuk mengisi
waktu, tetapi karena lemahnya kehendak dan tekad, mereka tidak melakukannya.
Maka seorang muslim wajib mengobati perkara ini dan bersegera serta berlomba
melaksanakan amalan-amalan shalih, serta memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala,
kemudian bergabung dengan kawan-kawan yang shalih.
Sumber :
https://khotbahjumat.com/3256-renungan-tentang-waktu.html
(Dengan peringkasan)