Senin, 05 Februari 2024

TETAP TAAT PADA SUAMI, WALAU SERING ADA MASALAH RUMAH TANGGA

     Pembaca yang baik, kali ini admin hadirkan sebuah sajian tanya-jawab permasalahan keluarga yang sering terjadi, termasuk pada keluarga admin sendiri (hehee). sajian Tanya Jawab ini admin dapatkan dari sumber yang admin cantumkan pada referensi yang tertulis pada bagian akhir artikel ini, selanjutnya yuk kita baca dan dipahami.

-----------------------------------

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Afwan Ustadz saya mau Tanya.
Bagaimana jika seorang istri yang sudah tidak memiliki perasaan lagi terhadap suaminya ?
Karenanya sering cekcok dan bagaimana menasehati diri sendiri dan jalan keluarnya?

شكرا

(Disampaikan oleh Fulanah, Sahabat BiAS T09 G-25)


Jawaban :

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du
Ayyuhal akhwat baarakallah fikunna.

Tetap Taat pada Suami Anda, Maka Bagimu Surga

Kebahagian hidup dan berumah tangga terletak pada (nikmat dari Allah, kemudian) genggaman tangan suami Anda. Pandai-pandailah membawa diri, sehingga suami Anda rela membentangkan kedua telapak tangannya, dan memberikan kebahagian berumah tangga kepada Anda.

Percayalah! suami Anda adalah pasangan terbaik untuk Anda.

“Bila seorang istri telah mendirikan shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadan, menjaga kesucian dirinya, dan taat kepada suaminya, niscaya kelak akan dikatakan kepadanya, ‘Silakan engkau masuk ke surga dari pintu mana pun yang engkau suka."
(Hr. Ahmad dan lainnya)

Tidakkah Anda mendambakan termasuk orang-orang mukminah yang mendapatkan kebebasan masuk surga dari pintu yang mana pun ?

Kunci Keberhasilan Rumah Tangga

Boleh jadi selama ini Anda bersama pasangan hidup Anda, terus berusaha mencari pola rumah tangga yang dapat mendatangkan kebahagiaan untuk Anda berdua.

Berhasil menemukannya?
Bila berhasil, maka saya ucapkan selamat berbahagia. Adapun bila belum, maka segera temukan kunci keberhasilan rumah tangga Anda pada firman Allah Ta’ala berikut :

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.”
(QS. al-Baqarah: 228)

Hak pasangan Anda setimpal dengan kewajiban yang ia tunaikan kepada Anda. Semakin banyak Anda menuntut hak Anda, maka semakin banyak pula kewajiban taat pada suami yang harus Anda tunaikan untuknya.

Sahabat Abdullah bin ‘Abbas memberikan contoh nyata dari aplikasi ayat ini dalam rumah tangganya. Pada suatu hari, beliau berkata :
“Sesungguhnya, aku senang untuk berdandan demi istriku, sebagaimana aku pun senang bila istriku berdandan demiku, karena Allah Ta’ala telah berfirman : “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.”Aku pun tidak ingin menuntut seluruh hakku atas istriku, karena Allah juga telah berfirman :''Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.’” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan ath-Thabari)

Perhatikanlah dan Mari Belajar dari Kisah, Siapa yang lebih Buruk, Suami Anda atau Fir’aun ? 

Namun demikian sejelek apapun Fir’aun ternyata tidak mengahalangi istrinya yaitu Asiyah bin Muzahim menjadi wanita penghuni surga. Bahkan kisah dan ketegaran batinnya diabadikan dalam Al Qur’an : “Dan Allah membuat istri Fir’aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata : “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”( QS. At Tahrim: 11)

Percayalah!
Kalau anda mendambakan kebahagiaan, percayalah bahwa kebahagian itu hanya Allah yang punya, bila anda beriman dengan baik, pasti anda bahagia, sebagaimana Asiyah bin Muzahim bisa tetap berbahagia walau suaminya adalah manusia paling jahat di dunia.

Selama anda mengharapkan kebahagiaan dari suami anda niscaya anda kecewa dan menderita. Namun setiap kali anda fokus menunaikan tugas dan kewajiban anda sebagai istri, sedangkan hak dan kebahagian hidup anda, hanya anda pinta kepada Allah Yang Maha Kuasa, niscaya anda bahagia, siapapun suami anda.

Pahala itu sebanding dengan beratnya ujian

bila anda berkata "Kok bisa ya, wanita sholehah dinikahi lelaki jahat seperti itu"? Ya, untuk membuktikan dan menguji kekuatan iman Asiyah binti Muzahim, karena kalau tanpa ujian, niscaya kesempurnaan iman beliau tidak terbukti. Terlebih bagi saya dan juga anda, sehingga bisa jadi anda akan bertanya : “apa hebatnya dia sehingga kita dianjurkan meneladaninya dan dia dimasukkan ke dalam surga ?”

Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya besarnya pahala itu setimpal dengan besarnya ujian, dan sesungguhnya jika Allah Subhanahu wata’ala mencintai suatu kaum, maka Ia akan mengujinya.

Barang siapa yang ridho dengan ujian itu maka baginya keridhoan Allah, dan barang siapa yang marah/benci kepada ujian tersebut, maka baginya kemurkaan Allah”
(shahih, HR. Tirmizy)

Jadi suamimu seperti itu karena Allah sayang kepadamu, agar engkau bisa berjiwa besar, dan dapat pahala besar. 

Selamat mencoba. Tetaplah taat pada suami , semoga bahagia selalu bersamanya. Wallahu a’lam, Wabillahit taufiq.

---------------------------------------------------------

Referensi : https://bimbinganislam.com/tetap-taat-pada-suami/



Jumat, 19 Januari 2024

Aku Berubah

 Aku berubah...

Saudaraku...bila engkau menilai aku berubah, maka ingin aku jelaskan, kenapa aku berubah. 

Kini aku berjenggot, celanaku diatas mata kaki "cingkrang" (kata orang) dan Aku tidak datangi tahlilan.

Saudaraku, sebelum lebih banyak ku tulis tulisan ini, kita sepakati dahulu, bahwa apapun perbedaan kita, maka kita sepakati, akan kembali kepada Qur'an dan hadits nabi yg shahih sebagai pegangan dan pedoman hidup kita. jika engkau tidak setujui ini, maka silahkan tutup saja dan jangan baca lagi tulisan ini.

Saudaraku, aku berubah berjenggot karena itu Sunnah Rasul, aku cingkrang itu juga Sunnah Rasul, dan aku tidak datangi tahlilan (rangkaian kegiatan mengenang hari hari setelah kematian seseorang) karena tidak ada Sunnah rasul-Nya. 

Lalu, kenapa harus ada Sunnah Rasulnya? Karena Sunnah Rasul artinya perintah nabi, hal hal yg di kerjakan nabi, dan disetujui nabi. Kita juga harus menjauhi larangan Nabi.

Setiap amalan (ibadah Agama) akan tertolak, jika tidak sesuai dengan apa yg diperintahkan Rasulullah, dan dalam masalah dunia boleh dikerjakan, selama tidak ada Larangan nya dari Rasulullah shalallahu alayhi wasallam. 

Kita telah jauh berada dari waktu dan apa yg diajarkan Nabi kita, maka sangat memungkinkan terjadinya penambahan dan perubahan dalam tatanan agama yg diajarkan oleh nabi kita, sehingga terjadi amalan amalan yg tidak diajarkan dalam beribadah. 

Agama telah sempurna, dan Allah Ta'ala yg menyatakan di firman-nya Q.S Al Maidah ayat 3. Nabi kita telah menyelesaikan tugasnya, tidak ada perintah yg dapat memasukkan ke surga dan larangan yg dapat menjauhkan dari neraka, kecuali telah Nabi sampaikan kepada umatnya. Buktinya mulai dari WC hingga di tempat tidur, Nabi kita sampaikan adab adabnya.

Apapun perbedaan diantara kita, tidak akan melupakan bahwa kita bersaudara, perbedaan ini hanya pada pemahaman bahwa selama tidak ada Dalil Qur'an dan hadist shahih tentang suatu amalan itu, dan tidak dilakukan serta disetujui oleh Nabi dan para sahabatnya, maka amalan itu tidak bisa diamalkan.

Tapi jika engkau ingin bertanya "amalan yg kebanyakan dilakukan orang itu kan baik ? " Saudaraku, Baik nya itu menurut siapa, pikiran mereka dan lainnya. Jika tidak menurut Nabi, tidak kah engkau khawatir surga yg engkau idamkan, bukanlah surga menurut yg nabi tunjukkan.

Jumat, 22 Desember 2023

AYO RENUNGKAN

 Bismillah, 

  Assalamu'alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh

Saudaraku, mari merenung sejenak berapa usiamu saat ini, telah lebih 40 tahun ? maka renungkan, rahasia dibalik umur 40 tahun , jangan merasa pintar, sudahkah engkau tahu tujuan untuk apa kita hidup? maka perhatikan kualitas amalmu, cara cerdas berbekal untuk perjalanan menuju akhirat, cara cerdas dalam beribadah, dan hal hal tersebut hanya untuk orang cerdas sebagai bekal mereka dalam ber-hijrah, dalam kehidupan didunia terutama untuk kehidupan kekal di akhirat dengan tetap menerapkan 3 cara istiqomah dalam Hijrah

Demikian, (Teks terpaut link ke video youtube silahkan diklik), Semoga bermanfaat, barakallahu fik.

Sabtu, 25 November 2023

SIAPA BILANG BID'AH ?

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Teladan Dalam Mengingkari Bid’ah[1]

Orang yang mencontohkan dan memberi kita teladan untuk menjauhi bid’ah serta melarang bid’ah adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda,

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim no. 1718)

Bahkan tidak hanya sekali-dua kali beliau bicara masalah bid’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap memulai khutbah biasanya beliau mengucapkan, “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim no. 867).

Tidak hanya itu, di akhir-akhir hidup beliau, beliau masih mewanti-wanti masalah bid’ah. Al Irbadh bin Sariyah radhiallahu’anhu mengatakan :   “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama kami suatu hari. Setelah shalat beliau menghadap kami kemudian memberikan nasehat yang mendalam yang membuat air mata berlinang dan hati bergetar”. Maka ada berkata: “wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat orang yang akan berpisah, apa yang engkau pesankan kepada kami?”.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi no. 2676. ia berkata: “hadits ini hasan shahih”).

Mengenal seluk beluk bidah[2]

Saudaraku yang semoga kita selalu mendapatkan taufik Allah, seringkali kita mendengar kata bid’ah, baik dalam ceramah maupun dalam untaian hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, tidak sedikit di antara kita belum memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan bid’ah sehingga seringkali salah memahami hal ini. Bahkan perkara yang sebenarnya bukan bid’ah kadang dinyatakan bid’ah atau sebaliknya. 

Saudaraku, perlu kita ketahui bersama bahwa berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, agama Islam ini telah sempurna sehingga tidak perlu adanya penambahan atau pengurangan dari ajaran Islam yang telah ada. Marilah kita renungkan hal ini pada firman Allah Ta’ala, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Ma’idah [5] : 3)

Seorang ahli tafsir terkemuka –Ibnu Katsir rahimahullah– berkata tentang ayat ini, “Inilah  nikmat Allah ‘azza wa jalla yang tebesar bagi umat ini di mana Allah telah menyempurnakan agama mereka, sehingga  mereka pun tidak lagi membutuhkan agama lain selain agama ini, juga tidak membutuhkan nabi lain selain nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi, dan mengutusnya kepada kalangan jin dan manusia. Maka perkara yang halal adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan dan perkara yang haram adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan.

Dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘yang bukan ajaran kami’ mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilakukan hendaknya berada dalam koridor syari’at. Oleh karena itu, syari’atlah yang nantinya menjadi hakim bagi setiap amalan apakah amalan tersebut diperintahkan atau dilarang. Jadi, apabila seseorang melakukan suatu amalan yang masih berada dalam koridor syari’at dan mencocokinya, amalan tersebutlah yang diterima. Sebaliknya, apabila seseorang melakukan suatu amalan keluar dari ketentuan syari’at, maka amalan tersebut tertolak. (Jami’ul Ulum wal Hikam,  hal. 77-78)

Jadi, ingatlah wahai saudaraku. Sebuah amalan dapat diterima jika memenuhi dua syarat ini yaitu harus ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika salah satu dari dua syarat ini tidak ada, maka amalan tersebut tertolak. Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) dan menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika melakukan (adat tersebut) adalah sebagaimana niat ketika menjalani syari’at (yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah). (Al I’tishom, 1/26, Asy Syamilah). Ringkasnya pengertian bid’ah secara istilah adalah suatu hal yang baru dalam masalah agama setelah agama tersebut sempurna. (Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al Fairuz Abadiy dalam Basho’iru Dzawit Tamyiz, 2/231, yang dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 26, Dar Ar Royah).

Mengenal Kata Bid’ah[3]

Banyak orang yang berkerut keningnya ketika pertama kali mendengar kata ini. Bermacam reaksi muncul dari seseorang ketika diingatkan tentang masalah ini. Ada yang menerimanya dan memperbaiki amalan ibadahnya dengan hidayah taufik dari Allah Ta’ala. Ada pula yang terlalu cepat menutup diri untuk memahaminya sehingga lebih sering berkata, “Ah… bisanya cuma membid’ah-bid’ahkan.”


Pembahasan tentang bid’ah bukanlah milik golongan tertentu. Bahkan setiap muslim harus mempelajarinya dan mewaspadainya dan tidak menutup diri dari pembahasan ini. Karena Rasululllah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan seburuk-buruk perkara adalah sesuatu yang diada-adakan adalah bid’ah.” (HR. Muslim no. 867). Dan sabda nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Karena setiap perkara yang baru (yang diada-adakan) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud).

 

Dalam riwayat lain, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada sumbernya maka tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Berdasarkan hadits ini, ada tiga unsur yang membuat sesuatu dapat dikatakan sebagai bid’ah.

 

Pertama; mengada-adakan. Ini diambil dari lafadz man ahdatsa. Akan tetapi membuat sesuatu yang baru bisa terjadi dalam perkara dunia ataupun agama. Maka diperlukan unsur yang kedua.

 

Kedua; perkara baru tersebut disandarkan pada Agama. Ini diambil dari lafadz fii amrina, Unsur kedua ini perlu dilengkapi unsur ketiga. Karena jika tidak, akan timbul pertanyaan atau keraguan, “Apakah semua perkara baru dalam agama tercela?”

 

Ketiga, perkara tersebut bukan bagian dari agama. Ini diambil dari lafadz ma laisa minhu Artinya, tidak ada dalil yang sah, bahwa hal tersebut pernah ada.

 

Referensi rujukkan:

[1]https://muslim.or.id/45084-menjelaskan-bidah-bukan-berarti-memvonis-  neraka.html.

[2]https://muslim.or.id/388-mengenal-seluk-beluk-bidah-1.html

[3]https://muslimah.or.id/57-mengenal-kata-bidah.html

 

Renungan, “jika setiap orang beribadah sesuia dengan keinginannya, mengikuti nenek moyang, guru dan kebanyakkan orang, maka akan dapat mencampuri kemurnian agama ini”


Minggu, 27 November 2022

KETIKA BANYAK YANG MENINGGALKAN

MENGAMALKAN SUNNAH NABI KETIKA BANYAK YANG MENINGGALKAN [1]

Di akhir zaman, Islam akan kembali asing. Sampai-sampai kaum Muslimin tidak mengenal ajaran-ajaran agamanya sendiri. Mereka asing terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga sunnah Nabi banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin. Orang yang mengamalkan sunnah pun dianggap asing dan aneh. Maka di masa ketika itulah, orang yang istiqamah mengamalkan sunnah Nabi diuji kesabarannya. Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita” [QS Al-Ahqaf : 13].

Allah Ta’ala juga berfirman,

“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)” [QS. Al-Jin: 16].

 Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

“Akan datang suatu masa, orang yang bersabar berpegang pada agamanya, seperti menggenggam bara api” [HR. Tirmidzi no. 2260, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi].

 

MEREKA YANG MEMEGANG BARA API [2]

Berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat ini memang amat berat, bagai mereka yang memegang bara api.

Itulah gambaran orang yang konsekuen dengan ajaran Islam saat ini, yang ingin terus menjalankan ibadah sesuai sunnah Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, begitu sulitnya dan begitu beratnya. Kadang cacian yang mesti diterima. Kadang dikucilkan oleh masyarakat sekitar. Kadang jadi bahan omongan yang tidak enak. Sampai-sampai ada yang nyawanya dan keluarganya terancam. Demikianlah resikonya. Namun nantikan balasannya di sisi Allah yang luar biasa andai mau bersabar.

Ingatlah janji Allah,

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10).

Sebagaimana disebut dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir, Al Auza’i menyatakan bahwa pahala mereka tak bisa ditimbang dan tak bisa ditakar. Itulah karena saking banyaknya.

----------------------------------------------------
[1] Sumber: https://muslim.or.id/67393-mengamalkan-sunnah-nabi-ketika-banyak-yang-meninggalkannya.html
[2] Sumber https://rumaysho.com/10479-mereka-yang-memegang-bara-api.html

 


SALAMAN, TAPI TAK JABAT TANGAN ?

HUKUM BERJABAT TANGAN DENGAN LAWAN JENIS [1]

Sebelumnya telah dijelaskan mengenai hukum berjabat tangan. Berjabat tangan yang dimaksud adalah antara pria dan pria, wanita dan wanita. Adapun berjabat tangan dengan lawan jenis, maka ada hukum yang berbeda antara sesama mahram dan yang bukan mahram.

Menurut jumhur (baca: mayoritas) ulama, berjabat tangan sesama mahram dibolehkan dan dihukumi sunnah (dianjurkan). Sedangkan berjabat tangan dengan yang bukan mahram, ada silang pendapat di antara para ulama, dibedakan antara berjabat tangan dengan yang sudah tidak punya rasa suka (syahwat) dan berjabat dengan yang masih muda.


Menurut Ulama Malikiyah, berjabat tangan dengan yang bukan mahram tetap tidak dibolehkan walaupun berjabat tangan dengan yang sudah sepuh dan tidak punya rasa apa-apa (tidak dengan syahwat). Mereka beralasan dengan keumuman dalil yang melarangnya.


Ulama Syafi’iyah mengharamkan berjabat tangan dengan yang bukan mahram, juga tidak mengecualikan yang sudah sepuh yang tak ada syahwat atau rasa apa-apa. Mereka pun tidak membedakannya dengan yang muda-muda. Sedangkan yang membolehkan berjabat tangan dengan non mahram yang sudah tua (yang tidak ada syahwat) adalah ulama Hanafiyah dan ulama Hambali.


Dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hadits ini sudah menunjukkan kerasnya ancaman perbuatan tersebut, walau hadits tersebut dipermasalahkan keshahihannya oleh ulama lainnya.



[1] Sumber https://rumaysho.com/10109-hukum-berjabat-tangan-dengan-lawan-jenis.html

Selasa, 22 November 2022

BERILMU dan BERAMAL

 Bismillah

Berimu Sebelum Beramal [1]

Allah Subhaanahu Wa Ta'ala berfirman yang artinya : 

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ

"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan memohon ampunan untukmu dan orang-orang beriman laki dan perempuan" (Q.S Muhammad: 19)

Ayat tersebut memerintahkan kepada Nabi Muhammad Shollallaahu 'alaihi wasallam untuk berilmu terlebih dahulu dengan firman-Nya "Maka ketahuilah (berilmulah)..." sebelum berucap dan berbuat yaitu memohon ampunan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'ala. Al Imam alBukhari rahimahullah menuliskan judul pada kitab Shahihnya dengan : "Bab Ilmu (didahulukan) sebelum ucapan dan beramal"

Umar bin Abdil Aziz rahimahullah berkata:

مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِح

“Barang siapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, makai ia lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki”

 BERILMU TAPI TIDAK PERHATIAN TERHADAP AMAL[2]

Fenomena yang tampak, seringkali ada orang yang rajin menuntut ilmu, tapi enggan untuk mengamalkannya. Sejatinya yang demikian bukanlah dianggap berilmu, karena seharusnya buah akhir dari benarnya ilmu seseorang adalah dengan mengamalkannya. Menuntut ilmu merupakan amalan yang agung dan mulia, karena ilmu merupakan sarana untuk merealisasikan tujuan agung penciptaan manusia yaitu untuk beribadah kepad Allah semata.

Tujuan Mempelajari Ilmu

Mempelajari ilmu sejatinya bukanlah hanya untuk menguasai ilmu itu sendiri, namun ilmu dipelajari untuk diaplikasikan dalam pengamalan. Seluruh ilmu syar’i yang ada, syariat memerintahkan untuk mempelajarinya sebagai wasilah untuk beribadah kepada Allah, bukan untuk tujuan yang lainnya. Hal ini bisa ditunjukkan dari beberapa sisi berikut :

Tujuan Adanya Syariat

Tujuan adanya syariat adalah agar manusia beribadah kepada Allah, dan tidak mungkin seseorang bisa mengamalkan syariat tanpa mengilmuinya. Inilah tujuan pengutusan seluruh para nabi. Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ

“ Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu. “ (Al Baqarah : 21)

Ancaman Bagi yang Tidak Mengamalkan Ilmu

Terdapat dalil yang menunjukkan ancaman bagi orang yang tidak mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Orang yang berilmu akan ditanya tentang ilmunya, apa yang telah dia amalkan dari ilmunya tersebut. Barangsiapa yang tidak mengamalkan ilmunya maka ilmunya sia-sia dan akan menjadi penyesalan baginya. Allah berfirman :

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

“ Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedangkan kamu melupakan kewajiban dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? “ (Al Baqarah : 44)

Sumber Rujukan:

[1] https://muslim.or.id/27361-berilmu-sebelum-beramal.html

[2] https://muslim.or.id/51406-berilmu-tapi-tidak-perhatian-terhadap-amal.html

 


Muhasabah

  Saudaraku, Inilah Pentingnya Ilmu Agama [1] Bismillah. Wa bihi nasta’iinu. Saudaraku yang dirahmati Allah, bagi seorang muslim belajar...