Kamis, 18 Desember 2025
Kamis, 20 November 2025
RENUNGAN TENTANG WAKTU *
Waktu adalah salah satu nikmat yang agung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia. Sudah sepantasnya manusia memanfaatkannya secara baik, efektif dan semaksimal mungkin untuk amal shalih.
Allah Ta’ala telah bersumpah dengan
menyebut masa dalam firman-Nya:
وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan
nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya
menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr:1-3).
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu, sebagaimana disebutkan dalam hadits
berikut ini:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia
berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua
kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan
waktu luang”. (HR Bukhari).
Hadits yang mulia ini memberitakan bahwa waktu luang adalah
nikmat yang besar dari Allah Ta’ala, tetapi banyak manusia tertipu
dan mendapatkan kerugian terhadap nikmat ini.
Di antara bentuk kerugian ini adalah:
Pertama: Seseorang tidak mengisi waktu luangnya
dengan bentuk yang paling sempurna. Seperti menyibukkan waktu luangnya dengan
amalan yang kurang utama, padahal ia bisa mengisinya dengan amalan yang lebih
utama.
Kedua: Dia tidak mengisi waktu luangnya dengan
amalan-amalan yang utama, yang memiliki manfaat bagi agama atau dunianya. Namun
kesibukkannya adalah dengan perkara-perkara mubah yang tidak berpahala.
Ketiga: Dia mengisinya dengan perkara yang haram, ini
adalah orang yang paling tertipu dan rugi. Karena ia menyia-nyiakan kesempatan
memanfaatkan waktu dengan perkara yang bermanfaat. Tidak hanya itu, bahkan ia
menyibukkan waktunya dengan perkara yang akan menggiringnya kepada hukuman
Allah di dunia dan di akhirat.
Adapun yang menjadi penyebab perbedaan keadaan manusia dalam
menyikapi waktu, kembali kepada tiga perkara berikut.
Sebab pertama, tidak menetapkan tujuan hidup. Oleh karena
itu, seorang muslim wajib mengetahui bahwa tujuan Allah menciptakannya adalah
untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya
mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56).
Dia harus mengetahui bahwa dunia ini adalah tempat beramal,
bukan tempat santai dan main-main, sebagaimana firman-Nya:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا
لَا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami
menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan
dikembalikan kepada Kami?” (QS. al-Mukminun: 115).
Dunia adalah sawah ladang akhirat. Jika engkau menanam
kebaikan di dunia ini, maka engkau akan memetik kenikmatan abadi di akhirat
nanti. Jika engkau menanam keburukan di dunia ini, maka engkau akan memetik
siksaan pedih di akhirat nanti.
Namun demikian, ini bukan berarti manusia tidak boleh
bersenang-senang dengan perkara yang Allah ijinkan di dunia ini, karena
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي
أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ
عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut
dan paling takwa di antara kamu kepada Allah, tetapi aku berpuasa dan berbuka,
shalat (malam) dan tidur, dan aku menikahi wanita-wanita. Barangsiapa membenci
sunnahku, maka ia bukan dariku. (HR al-Bukhari, no. 4776; Muslim, no. 1401)
Sebab kedua, tidak megentahui nilai dan urgensi waktu.
Sebab ketiga, lemahnya kehendak dan tekad.
Banyak orang mengetahui nilai dan urgensi waktu, dan
mengetahui perkara-perkara bermanfaat yang seharusnya dilakukan untuk mengisi
waktu, tetapi karena lemahnya kehendak dan tekad, mereka tidak melakukannya.
Maka seorang muslim wajib mengobati perkara ini dan bersegera serta berlomba
melaksanakan amalan-amalan shalih, serta memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala,
kemudian bergabung dengan kawan-kawan yang shalih.
https://khotbahjumat.com/3256-renungan-tentang-waktu.html
(Dengan peringkasan)
Senin, 27 Oktober 2025
Kaidah-kaidah Ibadah yang Benar
Sesungguhnya, kemuliaan seorang hamba, ialah dengan beribadah kepada Allah semata, tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Jika seorang hamba semakin menambah ketundukan dan peribadahannya kepada Allah, maka semakin bertambah pula kesempurnaan dan derajatnya.
Ibadah adalah hak Allah yang menjadi kewajiban hamba. Kebaikannya akan kembali kepada hamba itu sendiri. Karena sesungguhnya Allah tidak membutuhkan hambaNya.
(untuk lebih jelas, mari kita baca pada link berikut : kaidah -kaidah ibadah yang benar
Referensi : https://almanhaj.or.id/30434-kaidah-kaidah-ibadah-yang-benar.html
Kamis, 16 Oktober 2025
Tentang Fardhu Kifayah Mengurus Jenazah
BIMBINGAN MENGURUS JENAZAH
Oleh: Ustadz Abu Sulaiman Aris Sugiyantoro
Risalah Islam bersifat paripurna, menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia dari sejak ia belum menghirup udara dunia, sampai akhirnya kubur menjadi huniannya. Ini juga menjadi pesona khas, bagi agama yang diemban Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekali lagi, sebagian keindahan Islam akan terbukti, dengan Anda menyimak sajian rubrik fiqih kali ini.
1. Rela terhadap qadha dan qadar Allah,
sabar dan berprasangka baik kepadaNya.
2. Diperbolehkan untuk berobat dengan
sesuatu yang mubah, dan tidak boleh berobat dengan sesuatu yang haram, atau
berobat dengan sesuatu yang merusak aqidahnya; misalnya, seperti datang kepada
dukun, tukang sihir atau ke tempat lainnya.
Jumat, 10 Oktober 2025
SEMUA TENTANG SHALAT
Buatmu yang ingin tahu lebih banyak tentang shalat, berikut admin berikan link terkait bahasan kita kali ini. Untuk menyimaknya silahkan klik link teks berikut ini, semoga bermanfaat :
1. Cara shalat jamak dan qashar
2. Tata cara shalat di pesawat
TATA CARA SHALAT BAGI ORANG YANG SAKIT
1. Cara berwudhu
sumber : https://www.youtube.com/watch?v=xN01HakhFis
2. Tidak shalat karena kena Najis
Rabu, 08 Oktober 2025
SIAPA BILANG SHOLAT ITU BERAT ?
(Prakata) .... "wahh, udh adzan aja, malasnya sholat"
Pernyataan ini, mungkin pernah terlitas di pikiran kita, (yaaa kaaan), beginilah kiranya yang terjadi ketika kita merasa jenuh dengan kebiasaan yang rutinitas dilakukan dengan perasaan hati yang merasa terpaksa dilakukan. Namun sebaliknya, ketika pekerjaan itu dilakukan dengan penuh rasa suka, senang, dan meyakini akan memperoleh suatu imbalan atau keuntungan yang besar dari pekerjaan tersebut, maka dengan segala upaya dilakukan dengan penuh semangat.
Nah, kali yuk kita simak beberapa video singkat tentang SHOLAT. disimak yaa! ada beberapa pilihan video dan link tertaut sebagai berikut ;
sakit tak shalat kerana khawatir kena najis
Jumat, 03 Oktober 2025
Minggu, 21 September 2025
MUHASABAH DIRI (MD02)
WAKTUMU SINGKAT LAWAN MAKSIAT
(sebuah rangkaian tulisan, bertautan link ceramah singkat Instagram)
Dicabutnya keberkahan waktu di akhir zaman, ketika sering merasa waktu masih panjang padahal kematian selalu mendekat tanpa aba-aba, nggak nangis pas inget neraka tapi nangis liat kuburan, dianjurkan untuk mengingat mati dan mempersiapkan diri menghadap kematian, ketahuilah bahwasanya maksiat pasti ada dampaknya, ada dosa yang lebih besar...apakah kita sadar ? hari itu pasti tiba hari setiap amal akan dipertanyakan, silahkan bermaksiat sepanjang engkau kuat disiksa di Neraka
Sabtu, 20 September 2025
TAHUKAH ANDA ?
10 Nasihat Ibnul Qayyim Untuk Bersabar Agar Tidak Terjerumus Dalam Lembah
Maksiat
Segala puji bagi Allah Rabb seru
sekalian alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan Rasul paling
mulia. Amma ba’du.
Berikut ini sepuluh nasihat Ibnul
Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak
terjerumus dalam perbuatan maksiat:
Pertama, hendaknya
hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan
hendaknya dia memahami bahwa Allah mengharamkannya serta melarangnya dalam
rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah
sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi
menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.
Kedua, merasa malu
kepada Allah… Karena sesungguhnya apabila seorang hamba
menyadari pandangan Allah yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa
tinggi kedudukan Allah di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya
dilihat dan didengar Allah tentu saja dia akan merasa malu apabila dia
melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan
menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat
seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah…
Ketiga, senantiasa
menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan
baik-Nya kepadamu.
Apabila
engkau berlimpah nikmat
maka jagalah,
karena maksiat
akan membuat
nikmat hilang dan lenyap.
Barang siapa yang tidak mau bersyukur
dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan
nikmat itu sendiri.
Keempat, merasa takut
kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya.
Kelima, mencintai
Allah… karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya… Sesungguhnya
maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.
Keenam, menjaga
kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya… Sebab
perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela
meninggalkan berbagai perbuatan maksiat…
Ketujuh, memiliki
kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta
jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya
yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana
yang menyelimuti diri… karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati…
Kedelapan, memupus
buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan
menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya
dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia
akan segera berpindah darinya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong
dirinya untuk semakin menambah berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu
jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat
apa-apa.
Kesembilan, hendaknya
menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena
sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari
akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang
menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah… waktu senggang dan lapang
yang dia miliki… karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa
kegiatan… sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat
maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.
Kesepuluh, sebab
terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu kekokohan pohon
keimanan yang tertanam kuat di dalam hati… Maka kesabaran hamba
untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan
imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat… dan apabila
imannya melemah maka sabarnya pun melemah… Dan barang siapa yang menyangka
bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan
maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.
***
Diterjemahkan dari artikel
berjudul ‘Asyru Nashaa’ih libnil Qayyim li Shabri ‘anil Ma’shiyah,
www.ar.islamhouse.com
Rabu, 20 Agustus 2025
ADA APA DENGAN TAHLILAN ?
Menjawab Syubhat Pembela Ritual Tahlilan[1]
Tahlilan adalah ritual berkumpul di keluarga kematian dengan disertai
doa doa dan pembagian makanan untuk para penta’ziyah. Dalam bahasa arab
lebih dikenal dengan istilah ma’tam.
Jarir bin Abdillah Al-Bajali berkata,“Dahulu kami menganggap
berkumpul kepada keluarga kematian dan membuat makanan setelah dikuburkan
adalah termasuk meratap.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dan
dishahihkan oleh An-Nawawi dalam Al-Majmu‘ (5: 320) dan Al Bushiri
dalam Zawaid-nya]
Syaikh Abdullah Al-Jurdani berkata,“Termasuk bid’ah yang makruh adalah yang dilakukan oleh manusia dari apa yang mereka sebut kaffarat, atau berupa membuat makanan untuk berkumpul padanya sbelum dikubur atau setelah dikubur, dan berupa menyembelih di kuburan, dan berupa juma’ dan arba’in. Bahkan semua itu haram bila berasal dari harta mayat yng memiliki hutang, atau ia dihajr pada ahli waritsnya atau gaib.”
Di zaman
Nabi shallallahu alaihi wasallam, shahabat yang meninggal
banyak sekali, termasuk anak beliau Ruqoyyah dan Ummu Kultsum. Namun tidak ada
satupun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi memberi makan untuk mereka selama
tujuh hari.
Amalan yang
Bermanfaat Bagi Mayit [2]
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang
telah diusahakannya” (QS. An Najm: 39).
Dari ayat ini, sebagian ulama mengatakan bahwa usaha orang lain tidak
akan bermanfaat bagi si mayit. Namun pendapat ini adalah pendapat yang
kurang tepat. Syaikh As Sa’di mengatakan bahwa ayat ini hanya menunjukkan bahwa
manusia tidaklah mendapatkan manfaat kecuali apa yang telah ia usahakan untuk
dirinya sendiri. Ini benar dan tidak ada perselisihan di dalamnya.
Namun ayat ini tidak menunjukkan bahwa amalan orang lain tidak
bermanfaat untuk dirinya yaitu ketika orang melakukan amalan untuknya. Sebagaimana pula seseorang memiliki harta yang
ia kuasai saat ini. Hal ini tidak melazimkan bahwa dia tidak bisa mendapatkan
harta dari orang lain melalui hadiah yang nanti akan jadi miliknya.
Jadi sebenarnya, amalan orang lain tetap bermanfaat bagi orang yang
sudah meninggal sebagaimana ditunjukkan pada dalil-dalil yang akan kami
bawakan, seperti amalan puasa dan pelunasan utang. Namun perlu diperhatikan di
sini, amalan yang bisa bermanfaat bagi si mayit itu juga harus ditunjukkan
dengan dalil dan tidak bisa dikarang-karang sendiri. Jadi tidak boleh seseorang
mengatakan bahwa amalan A atau amalan B bisa bermanfaat bagi si mayit, kecuali
jika jelas ada dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah yang menunjukkan hal tersebut.
Oleh karena itu, tidak kita temui pada kebiasaan para ulama salaf, jika
mereka melakukan shalat, puasa, haji, atau membaca Al Qur’an; mereka
menghadiahkan pahala amalan mereka kepada kaum muslimin yang sudah mati atau
kepada orang-orang yang istimewa dari kaum muslimin. Bahkan kebiasaan dari
salaf adalah melakukan amalan yang disyari’atkan yang telah disebutkan di atas.
Oleh karena itu, setiap orang tidak boleh melampaui jalan hidup para salaf
karena mereka tentu lebih utama dan lebih sempurna dalam beramal. Wallahu
a’lam.” (Demikian penjelasan Syaikhull Islam Ibnu Taimiyah)
Catatan: Yang
dimaksudkan kirim pahala dari amalan badaniyah ataupun maliyah sebagaimana yang
dibolehkan oleh sebagian ulama bukanlah dengan mengumpulkan orang-orang lalu
membacakan surat tertentu secara berjama’ah dan ditentukan pula pada hari
tertentu (semisal hari ke-7, 40, 100, dst). Jadi tidaklah demikian yang
dimaksudkan oleh para ulama tersebut. Apalagi kalau acara tersebut diadakan di
kediaman si mayit, ini jelas suatu yang terlarang karena ini termasuk acara
ma’tam (kumpul-kumpul) yang dilarang. Seharusnya keluarga mayit dihibur dengan
diberi makan dan segala keperluan karena mereka saat itu dalam keadaan susah,
bukan malah keluarga mayit yang repot-repot menyediakan makanan untuk acara
semacam ini.
Apakah Mayit Mendengarkan Bacaan Al Qur’an? [2]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Jika ada yang mengatakan bahwa
bermanfaat bagi si mayit ketika dia diperdengarkan Al Qur’an dan dia akan
mendapatkan pahala jika mendengarnya, maka pemahaman seperti ini
sungguh keliru. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri
pernah bersabda,
إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ
أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia itu mati, amalannya akan terputus kecuali melalui tiga
perkara: [1] sedekah jariyah, [2] ilmu yang dimanfaatkan, atau [3] anak sholeh
yang mendo’akan dirinya. ”
Oleh karena itu, setelah kematian si mayit tidak akan mendapatkan pahala
melalui bacaan Al Qur’an yang dia dengar dan amalan lainnya. Walaupun memang si
mayit mendengar suara sandal orang lain dan juga mendengar salam orang yang
mengucapkan salam padanya dan mendengar suara selainnya. Namun ingat, amalan
orang lain (seperti amalan membaca Al Qur’an, pen) tidak akan berpengaruh
padanya.”
Sumber kutipan referensi pustaka:
[1]https://muslim.or.id/27932-menjawab-syubhat-pembela-ritual-tahlilan.html
Copyright © 2025 muslim.or.id
[2] https://muslim.or.id/5798-amalan-yang-bermanfaat-bagi-mayit.html Copyright © 2025
-------------------------------------------
Saudaraku, selagi umur masih ada,
tubuh masih sehat dan kesempatan masih terbuka, maka sudah semestinya kita yang
berbuat amal sholeh dan beribadah sesuai dengan apa yang diperintahkan dan
menjauhi dengan apa yang dilarang.
Jika ada pertanyaan yang muncul “ inikan
baik, mana larangannya ?" (kita jawab) baik menurut siapa, (menurut mu? kan ! ) apakah menurut
nabi kita? surga mana yang ingin dirimu tempati, selain surga yang nabi kita tunjukkan dengan cara dan amalannya, agar kita sama sama masuk ke dalamnya. Selanjutnya, "mana
larangannya?" bukankah Nabi
kita yang memerintahkan dan juga serta merta dapat saya pahami melarangnya, Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa
membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada
asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim
no. 1718), “Jauhilah hal-hal yg baru (dalam agama), karena semua perkara
yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah kesesatan“. (Abu Dawud: 4607). Maka
hadist ini adalah hadist perintah dan sekaligus memuat larangannya.
Saudaraku,
dirimu tentu mengetahui bahwa banyak kitab dan buku yang menjelaskan perihal
larangan terkait dengan apa yang kita bahas saat ini. Salah satu kitab yang dikenal
kaum muslimin khususnya di kalimantan selatan adalah kitab Sabilal Muhtadin, karya
Syekh Muhammad Arsyad al Banjari. Pada edisi bahasa indonesia jilid 2, yang
diterbitkan oleh PT Bina Ilmu, disalin oleh Prof. H.M Asywadie Syukur. Lc, dihalaman
741 dan 742, tentang bab Jenazah, dituliskan
“Makruh lagi Bid’ah bagi yang kematian membikin makanan untuk dimakan oleh orang
banyak baik sebelum maupun sesudah mengubur seperti kebiasaan dikerjakan oleh
masyarakat. Makruh lagi bid’ah
menghadiri undangan itu dan haram menyediakan makanan untuk yang
menangis dengan suara nyaring karena
yang seperti itu dapat membawa kepada kemaksiatan”
Semoga
tulisan ini bermanfaat, dan semoga kita dalam petunjuk-Nya,
amiin.
Selasa, 12 Agustus 2025
MUHASABAH DIRI
Perintah agar setiap hamba selalu muhasabah [1]
Allah Ta’ala memerintahkan setiap hamba untuk muhasabah terhadap dirinya. Allah Ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS. Al-Hasyr: 18-19).
Ayat ini merupakan ayat yang merupakan landasan pokok bagi hamba untuk senantiasa muhasabah terhadap amal perbuatannya.
Terdapat pula hadis yang menunjukkan disyariatkannya muhasabah. Dari sahabat Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang cerdas adalah orang yang menundukkan jiwanya dan beramal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian” (HR Tirmidzi, hasan).
Al ‘Izz bin Abdis Sallaam rahimahullah mengatakan, “Para ulama telah sepakat mengenai wajibnya muhasabah diri terhadap amal yang telah lalu dan amal apa yang akan dilakukan nantinya”
(Lihat A’maalul Quluub, hal. 363-364).
Apa Manfaat Muhasabah? [2]
Pertama: Meringankan hisab pada hari kiamat.
‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, itu akan memudahkan hisab kalian kelak. Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang kelak. Ingatlah keadaan yang genting pada hari kiamat,
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ
“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (QS. Al-Haqqah: 18).” (Az-Zuhud li Ibnil Mubarak, hlm. 306. Lihat A’mal Al-Qulub, hlm. 371.)
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Mukmin itu yang rajin menghisab dirinya dan ia mengetahui bahwa ia akan berada di hadapan Allah kelak. Sedangkan orang munafik adalah orang yang lalai terhadap dirinya sendiri (enggan mengoreksi diri, pen.). Semoga Allah merahmati seorang hamba yang terus mengoreksi dirinya sebelum datang malaikat maut menjemputnya.” (Tarikh Baghdad, 4:148. Lihat A’mal Al-Qulub, hlm. 372.)
Kedua: Terus bisa berada dalam petunjuk
Sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Baidhawi rahimahullah dalam tafsirnya bahwa seseorang bisa terus berada dalam petunjuk jika rajin mengoreksi amalan-amalan yang telah ia lakukan. (Tafsir Al-Baidhawi, 1:131-132. Lihat A’mal Al-Qulub, hlm. 372.)
Ketiga: Mengobati hati yang sakit
Karena hati yang sakit tidaklah mungkin hilang dan sembuh melainkan dengan muhasabah diri.
Keempat: Selalu menganggap diri penuh kekurangan dan tidak tertipu dengan amal yang telah dilakukan.
Kelima: Membuat diri tidak takabbur (sombong)
Cobalah lihat apa yang dicontohkan oleh Muhammad bin Wasi’ rahimahullah ketika ia berkata,
لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا قَدَرَ أَحَدٌ أَنْ يَجْلِسَ إِلَيَّ
“Andaikan dosa itu memiliki bau, tentu tidak ada dari seorang pun yang ingin duduk dekat-dekat denganku.” (Muhasabah An-Nafs, hlm. 37. Lihat A’mal Al-Qulub, hlm. 373.)
Keenam: Seseorang akan memanfaatkan waktu dengan baik
Dalam Tabyin Kadzbi Al-Muftari (hlm. 263), Ibnu ‘Asakir pernah menceritakan tentang Al-Faqih Salim bin Ayyub Ar-Razi rahimahullah bahwa ia terbiasa mengoreksi dirinya dalam setiap nafasnya. Ia tidak pernah membiarkan waktu tanpa faedah. Kalau kita menemuinya pasti waktu Salim Ar-Razi diisi dengan menyalin, belajar atau membaca.
Maka siapa pun hendaklah muhasabah diri, baik orang yang bodoh maupun orang yang berilmu karena manfaat yang besar seperti yang telah disebut di atas. Sebelum beramal hendaklah kita bermuhasabah, begitu pula setelah kita beramal, kita bermuhasabah pula. Jangan sampai amal kita menjadi,
عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (3) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً (4)
“Bekerja keras lagi kepayahan, malah memasuki api yang sangat panas (neraka).” (QS. Al-Ghasyiyah: 3-4). Kata Ibnu Katsir rahimahullah, seseorang menyangka telah beramal banyak dan merasakan kepayahan, malah pada hari kiamat ia masuk neraka yang amat panas. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7:549)
Bagaimana Cara Muhasabah? [2]
Pertama: Mengoreksi diri dalam hal wajib, apakah punya kekurangan ataukah tidak. Karena melaksanakan kewajiban itu hal pokok dalam agama ini dibandingkan dengan meninggalkan yang haram.
Kedua: Mengoreksi diri dalam hal yang haram, apakah masih dilakukan ataukah tidak.
Contoh, jika masih berinteraksi dengan riba, maka ia berusaha berlepas diri darinya. Jika memang pernah mengambil hak orang lain, maka dikembalikan. Kalau pernah mengghibah orang lain, maka meminta maaf dan mendoakan orang tersebut dengan doa yang baik. Dalam perkara lainnya yang tidak mungkin ada koreksi (melainkan harus ditinggalkan, seperti minum minuman keras dan memandang wanita yang bukan mahram), maka diperintahkan untuk bertaubat, menyesal dan bertekad tidak mau mengulangi dosa itu lagi, ditambah dengan memperbanyak amalan kebaikan yang dapat menghapus kejelekan.
Allah Ta’ala berfirman,“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114)
Ketiga: Mengoreksi diri atas kelalaian yang telah dilakukan. Contoh sibuk dengan permainan dan menonton yang sia-sia.
Keempat: Mengoreksi diri dengan apa yang dilakukan oleh anggota badan, apa yang telah dilakukan oleh kaki, tangan, pendengaran, penglihatan dan lisan. Cara mengoreksinya adalah dengan menyibukkan anggota badan tadi dalam melakukan ketaatan.
Kelima: Mengoreksi diri dalam niat, yaitu bagaimana niat kita dalam beramal, apakah lillah ataukah lighairillah (niat ikhlas karena Allah ataukah tidak). Karena niat itu biasa berubah, terombang-ambing. Karenanya hati itu disebut qalb, karena seringnya terombang-ambing.
Marilah kita senantiasa mengoreksi diri (bermuhasabah) dan terus meminta tolong kepada Allah agar dimudahkan dalam ibadah. Contoilah para salaf dahulu.
‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah menghukumi dirinya dengan mengeluarkan sedekah berupa tanah yang harganya 200.000 dirham karena luput dari shalat ‘Ashar secara berjamaah.
Lihatlah bagaimana Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah suatu kali luput dari shalat berjamaah, ia malah mengganti dengan menghidupkan malam seluruhnya.
Ibnu Abi Rabi’ah rahimahullah pernah luput dari dua raka’at shalat Sunnah Fajar, untuk tebusannya, ia membebaskan seorang budak.
Ibnu ‘Aun rahimahullah pernah melakukan kesalahan, ketika ibunya memanggilnya, ia malah menjawab dengan suara keras. Ia pun akhirnya membebaskan dua orang budak. (Hilyah Al-Auliya’, 3:39. Lihat A’mal Al-Qulub, hlm. 385)
Lantas bagaimana dengan kita? Kita sudah banyak lalai, namun tak sadar untuk memperbaiki diri.
Sumber:
Copyright © 2025 muslim.or.id
Minggu, 06 Juli 2025
GHUROBA' (ORANG-ORANG ASING)
Siapakah yang Terasing dari Umat Islam yang Banyak? [1]
Sama halnya dengan orang yang ingin konsekuen dengan ajaran Nabi, kian terasing dan dia akan memikul cobaan yang berat dan berbagai cemoohan.
Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Sebagian salaf mengatakan “Hendaklah engkau menempuh jalan kebenaran. Jangan engkau berkecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikuti jalan kebenaran tersebut. Hati-hatilah dengan jalan kebatilan. Jangan engkau tertipu dengan banyaknya orang yang mengikuti yang kan binasa” (Madarijus Salikin, 1: 22).
Referensi pustaka
Jumat, 04 Juli 2025
INFAK/DONASI DAKWAH
Raihlah pahala bagi anda yg ingin berinfak atau donasi untuk media dakwah Islam, berikut ;
Jumat, 13 Juni 2025
SIRAH SAHABAT
ABU BAKAR ASH SHIDDIQ
Ada banyak faedah yang didapat dengan menyimak kisah sejarah orang-orang teladan dan pilihan, kali ini admin menghadirkan kisah sahabat Abu Bakar ash Shiddiq radhiyallahu anhu, Yuk kita simak, semoga bermanfaat.
IKHTIBAR FILE
OBAT STRESS
"aduh gimana ini ? aku pusing, aku bingung, udah gini udah gitu tak juga ada jalan untuk masalahku, gimana lagi ini" saudaraku hal hal seperti ini mungkin pernah kita rasakan, dan bahkan barangkali kita sering mengalaminya.... yap untuk kali ini, kita hadirkan satu file yang moga moga aja bermanfaat buat admin dan juga buat kamu yang membaca artikel ini. ya udah kita simak yuk....
Kamis, 27 Februari 2025
Minggu, 23 Februari 2025
RUBRIK NMH
PENYEMBUHAN DENGAN AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله Sumber repost: https://almanha...
-
Saudaraku yang aku sayangi dan disayangi oleh Allah Shubhanahu wa ta'ala .... saat ini sering kita mendengar perkataan, ketika meli...
-
Bismillah, Untukmu Saudaraku seiman.. Izinkan kami berbagi, berikut untaian link berfaedah yang dapat kita renungkan bersama. Ambillah ikhti...
-
Buatmu yang ingin tahu lebih banyak tentang shalat, berikut admin berikan link terkait bahasan kita kali ini. Untuk menyimaknya silahkan kli...
